Follow by Email

Begini Penampakan Ajag, Anjing Hutan Asli Indonesia.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Indonesia sebenarnya memiliki anjing hutan sendiri dan  sudah menjadi bagian dari ekosistem selama ribuan tahun. Sayangnya banyak yang mensama-ratakan, ajag atau (Cuon alpinus) yakni adalah anjing hutan yang hidup di dataran Asia. Banyak juga yang beranggapan ajag sama dengan serigala (Canis lupus) padahal meskipun hampir mirip, keduanya merupakan spesies yang telah berbeda pada tingkat genus. Bahkan dua subspesies ajag yakni Cuon alpinus javanicus dan Cuon alpinus sumatrensis merupakan anjing hutan asli (endemik) Indonesia yang mendiami pulau Sumatera dan Jawa.

Ajag Termasuk Hewan Dilindungi
Jangan mentang-mentang anjing lalu berpikir kalau ajag adalah hewan liar biasa, sebab ajag termasuk salah satu binatang langka di Indonesia yang populasinya semakin menurun dan terancam kepunahan. Oleh IUCN Redlist, anjing hutan asli Indonesia ini dikategorikan dalam status konservasi endangered (Terancam Punah).


Cuon alpinus sumatrensis  atau ajag endemik Sumatera ini berhasil tertangkap kamera di hutan Ujung kulon. 




Cuon alpinus javanicus atau ajag jawa yang diawetkan di museum zoologi Bogor, perhatikan perbedaan dengan saudara Sumateranya.


Salah satu dugaan kasus mengenai serangan ajag ke perkampungan penduduk, kesulitan mencari mangsa karena berkurangnya satwa di hutan terpaksa membuat ajag turun gunung dan memangsa ternak penduduk. Salah satu ciri serangan ajag adalah, selalu menyerang ke bagian yang halus dan terbuka, tidak seperti harimau atau singa yang menerkam leher sampai mangsa tewas tercekik, ajag justru merobek bagian paling mudah dari mangsanya dan membiarkannya tewas kehabisan darah.

Ciri-ciri dan Perilaku. 
Ajag (Cuon alpinus) mempunyai panjang tubuh sekitar 90 cm dengan tinggi badan sekitar 50 cm. Anjing hutan ini mempunyai berat badan antara 12-20 kg. Ajag memiliki ekor yang panjang sekitar 40-45 cm.

Binatang langka dan terancam kepunahan asli Indonesia ini memiliki bulu berwarna coklat kemerahan kecuali pada bagian bawah dagu, leher hingga ujung perut yang berwarna putih dan ekornya yang berwarna kehitaman.

Ajag biasa hidup berkelompok yang terdiri atas 5-12 ekor, bahkan hingga 30 ekor. Namun pada situasi tertentu, anjing hutan yang langka ini dapat hidup soliter (menyendiri) seperti yang ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Ajag melakukan perburuan mangsa secara bersama-sama yaitu dengan mengejar mangsanya yang lebih besar seperti babi hutan, kijang, rusa, banteng, dan kerbau. Tikus, kelinci, kancil dan binatang kecil lainnya juga menjadi makanan kesukaan binatang langka ini.
Ajag dapat mempunyai anak 6 ekor dalam sekali masa kehamilan, dengan lama buntingan sekitar 2,5 bulan. Dalam waktu satu tahun, anjing hutan ini dapat beranak sampai 2 kali. Anak ajag akan mencapai dewasa pada umur satu tahun.

Hewan ini termasuk hewan yang lebih aktif di malam hari (nokturnal), walaupun tidak sepenuhnya aktifitasnya dilakukan di malam hari. Suara lolongnya terdengar jelas dan keras sedang suara salakannya terdengar lembut, seperti mendengking pendek berulang-ulang (suara "kik-kik-kik"). Mungkin lantaran itu dibeberapa daerah di Jawa binatang langka ini disebut dengan `asu kikik`.

Habitat dan Populasi.
 Ajag (Cuon alpinus) mendiami kawasan pegunungan dan hutan. Binatang langka ini biasa membuat sarang di gua-gua dan liang yang tersedia. Anjing hutan yang berbeda dengan serigala ini tersebar di kawasan Asia mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kamboja, China, India, Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Russia, Tajikistan, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia ajag dapat ditemukan di pulau Sumatera dan Jawa.

Populasi ajag mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Populasinya di seluruh dunia diperkirakan sekitar 2.500 ekor. Karena penurunan populasi ini, ajag kemudian dikategorikan dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) oleh IUCN Redlist sejak 2004. Selain itu CITES juga memasukkan dalam daftar Apendix II.

Penurunan populasi ini terutama disebabkan oleh rusaknya hutan sebagai habitat ajag, berkurangnya hewan buruan (mangsa) ajag, dan perburuan liar. Di beberapa wilayah, ada pula yang kelebihan populasi ajag sebagai akibat dari tidak adanya predator pesaing yang membuat ajag sebagai predator tertinggi dalam ekosistem tersebut seperti yang terjadi di Taman Nasional Baluran.

Ajag Bukan Nenek Moyang Anjing. Meskipun masih terjadi silang pendapat, namun sebagian besar peneliti berkeyakinan bahwa ajag (Cuon alpinus) bukanlah nenek moyang dari anjing peliharaan (Canis lupus familiaris). Anjing peliharaan dipercaya merupakan keturunan dan domestikasi dari serigala (Canis lupus). Sayangnya banyak sekali masyarakat sekitar yang menganggap ajag sebagai hama dan kerap memburunya, padahal ajax merupakan salah satu hewan endemik yang memukau. Statusnya sebagai anjing hutan kerap kali disalahartikan sebagai anjing liar yang berdomisili di hutan.  

klik untuk referensi

2 comments:

click for my profile

Klik For Support

Powered by Blogger.

.

Viva ID

statistics

Facebook Page

Blog Archive